- Sebulan Jelang Mudik Lebaran, Teknologi Hybrid SHS Dinilai Jadi Opsi Paling Fleksibel Hadapi Macet d
- JAECOO J5 EV Jadi Model SUV EV Terlaris di Indonesia, Perkuat Momentum Awal Tahun 2026
- JAECOO J7 SHS-P dan Evolusi Elektrifikasi: Kendaraan Hybrid sebagai Opsi Strategis untuk Indonesia
- Awali 2026 dengan Tren Positif Pasar Nasional, BYD Perkuat Strategi Ekspansi Portofolio EV Sesuai Ke
- Arsitektur Kendaraan Listrik BYD dalam Menembus Batas Mobilitas Masa Depan: Integrasi Kecerdasan Tek
- Kehadiran Robot Humanoid AiMOGA di Booth JAECOO Bikin Pengunjung IIMS 2026 Penasaran
- JAECOO J5 EV Jadi “Kanvas” Modifikasi, Konsumen Diajak Berkreasi Rancang Mobil Listrik di IIMS 2
- JAECOO Kenalkan Program Co-Creation J5 EV di IIMS 2026, Ajak Konsumen Tentukan Mobil Ideal Versi Mer
- Satu Tahun di Indonesia, JAECOO Mantapkan Diri Sebagai Brand SUV Premium yang Tumbuh Cepat Lewat Tek
- Bebas Range Anxiety, JAECOO J5 EV Jadi Solusi Perjalanan Jauh
Televisi Digital Indonesia, Mau Dibawa Kemana?
Televisi Digital Indonesia, Terlambat atau Diperlambat
Digitalisasi penyiaran merupakan tuntutan dinamika teknologi yang menjadi keharusan untuk diterapkan dalam waktu sesegera mungkin. Kemampuan teknologi penyiaran digital yang bisa mengantarkan lebih banyak informasi kepada masyarakat membuat para pihak khususnya stakeholder meyakini bahwa digitalisasi penyiaran menjadi solusi terwujudnya pemerataan penyiaran di Indonesia.
Atas dasar permasalahan inilah ASUKA Digital Car TV selaku salah satu pionir di bidang Televisi Digital di Indonesia bersama dengan Asosiasi Televisi Siaran Digital indonesia (ATSDI) menggelar acara Talkshow "Televisi Digital Indonesia, Terlambat atau Diperlambat?" di Novotel Jakarta pada 3 November 2017.
Acara yang dihadiri oleh para Jurnalis dan para pihak yang berkepentingan untuk terwujudnya televisi digital ini dimaksudkan untuk mengkaji lebih mendalam serta menyampaikan kepada masyarakat apa saja permasalahan yang menjadi hambatan dalam pengesahan RUU Penyiaran ini. Saat ini RUU tersebut masih dalam proses di DPR-RI dan juga di Badan Legislatif yang masih belum menemui titik terang kapan akan disah menjadi undang-undang.

Seakan ‘mati suri’ Rancangan Undang-undang yang menjadi payung hukum keberadaan media digital masih belum serius dilakukan oleh pemerintah. Dari segi sosialisasi, dianggap masih sangat minim kepada masyarakat sehingga banyak yang masih belum mengetahui apa itu televisi digital. Selain itu para pengusaha yang bergerak dibidang ini juga terkena dampak yang luar biasa karena belum adanya regulasi yang menjadi dasar hukum mereka dalam mengembangkan usaha.
.jpg)
Talkshow ini dihadiri oleh Charles Honoris selaku perwakilan dari DPR Komisi 1 yang membidangi Komunikasi dan Informatika. Sementara dari pemerintah diwakili oleh Ibu Geryanti selaku Direktur Penyiaran Kemenkominfo. Ada pula Ketua Umum Asosiasi Televisi Siaran Digital Indonesia, Eris Munandar serta Erik Limanto selaku Direktur dari ASUKA Digital Car TV.
.jpg)
Dalam talkshow ini Eris Munandar mengatakan, “Indonesia sangat tertinggal dibandingkan negara lain mengenai pengembangan dan penyebaran televisi digital sampai ke daerah”. Hal ini seharusnya bisa digolongkan menjadi isu yang serius bagi pihak pemerintah, karena lebih dari 120 negara telah berhasil melakukan Analog Switch Off (ASO) dan berhasil sehingga menjadi lebih maju dibidang teknologi pertelevisiannya. Pokok masalah ini sudah terkatung-katung sampai sekitar 10 tahun dan tak kunjung selesai sampai saat ini, lanjutnya.
.jpg)
Sementara dari pihak Produsen, Erik Limanto mengatakan, “Sampai saat ini digitalisasi penyiaran di Inclonesia belum banyak diketahui umum, karena kurangnya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Sebagai contoh, Asuka Car TV sering mengelar pameran resmi diberbagai tempat, namun pengunjung yang datang masih menanyakan pertanyaan seputar perbedaan antara televisi digital dan analog serta keunggulan bila mereka menggunakan digital. Lalu kemana sajakah pemerintahan dalam kurun waktu 10 tahun di belakang dan apakah yang telah dilakukan sampai saat ini”, tegasnya.
.jpg)
Melalui kegiatan kali ini beliau berperan mewakili para pelaku usaha di Indonesia, khususnya di industri hiburan otomotif yang dimana juga terpengaruh ke dalam isu ini. Dampak lesu serta meningkatnya usaha bagi pelaku bisnis di sini juga dipengaruhi dari hasil keputusan hukum nantinya. Selain itu acara ini juga dimaksudkan untuk mengedukasi masyarakat luas tentang pentingnya digitalsasi serta manfaatnya migrasi pertelevisian dari analog ke digital.
.jpg)
Digitalisasi penyiaran merupakan tuntutan dinamika teknologi yang menjadi keharusan untuk diterapkan dalam waktu sesegera mungkin. Kemampuan teknologi penyiaran digital yang bisa mengantarkan lebih banyak informasi kepada masyarakat membuat para pihak khususnya stakeholder meyakini bahwa digitalisasi penyiaran menjadi solusi terwujudnya pemerataan penyiaran di Indonesia.
Atas dasar permasalahan inilah ASUKA Digital Car TV selaku salah satu pionir di bidang Televisi Digital di Indonesia bersama dengan Asosiasi Televisi Siaran Digital indonesia (ATSDI) menggelar acara Talkshow "Televisi Digital Indonesia, Terlambat atau Diperlambat?"
.jpg)
Acara yang dihadiri oleh para Jurnalis dan para pihak yang berkepentingan untuk terwujudnya televisi digital ini dimaksudkan untuk mengkaji lebih mendalam serta menyampaikan kepada masyarakat apa saja permasalahan yang menjadi hambatan dalam pengesahan RUU Penyiaran ini. Saat ini RUU tersebut masih dalam proses di DPR-RI dan juga di Badan Legislatif yang masih belum menemui titik terang kapan akan disah menjadi undang-undang.
.jpg)
Seakan ‘mati suri’ Rancangan Undang-undang yang menjadi payung hukum keberadaan media digital masih belum serius dilakukan oleh pemerintah. Dari segi sosialisasi, dianggap masih sangat minim kepada masyarakat sehingga banyak yang masih belum mengetahui apa itu televisi digital. Selain itu para pengusaha yang bergerak dibidang ini juga terkena dampak yang luar biasa karena belum adanya regulasi yang menjadi dasar hukum mereka dalam mengembangkan usaha.
Talkshow ini dihadiri oleh Charles Honoris selaku perwakilan dari DPR Komisi 1 yang membidangi Komunikasi dan Informatika. Sementara dari pemerintah diwakili oleh Ibu Geryanti selaku Direktur Penyiaran Kemenkominfo. Ada pula Ketua Umum Asosiasi Televisi Siaran Digital Indonesia, Eris Munandar serta Erik Limanto selaku Direktur dari ASUKA Digital Car TV.

Dalam talkshow ini Eris Munandar mengatakan, “Indonesia sangat tertinggal dibandingkan negara lain mengenai pengembangan dan penyebaran televisi digital sampai ke daerah”. Hal ini seharusnya bisa digolongkan menjadi isu yang serius bagi pihak pemerintah, karena lebih dari 120 negara telah berhasil melakukan Analog Switch Off (ASO) dan berhasil sehingga menjadi lebih maju dibidang teknologi pertelevisiannya. Pokok masalah ini sudah terkatung-katung sampai sekitar 10 tahun dan tak kunjung selesai sampai saat ini, lanjutnya.
Sementara dari pihak Produsen, Erik Limanto mengatakan, “Sampai saat ini digitalisasi penyiaran di Inclonesia belum banyak diketahui umum, karena kurangnya edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Sebagai contoh, Asuka Car TV sering mengelar pameran resmi diberbagai tempat, namun pengunjung yang datang masih menanyakan pertanyaan seputar perbedaan antara televisi digital dan analog serta keunggulan bila mereka menggunakan digital. Lalu kemana sajakah pemerintahan dalam kurun waktu 10 tahun di belakang dan apakah yang telah dilakukan sampai saat ini”, tegasnya.
Melalui kegiatan kali ini beliau berperan mewakili para pelaku usaha di Indonesia, khususnya di industri hiburan otomotif yang dimana juga terpengaruh ke dalam isu ini. Dampak lesu serta meningkatnya usaha bagi pelaku bisnis di sini juga dipengaruhi dari hasil keputusan hukum nantinya. Selain itu acara ini juga dimaksudkan untuk mengedukasi masyarakat luas tentang pentingnya digitalsasi serta manfaatnya migrasi pertelevisian dari analog ke digital.










.jpg)




.jpg)
 BYD ATTO 3 Harbour Grey (2).jpg)
 (1).jpg)