- Sebulan Jelang Mudik Lebaran, Teknologi Hybrid SHS Dinilai Jadi Opsi Paling Fleksibel Hadapi Macet d
- JAECOO J5 EV Jadi Model SUV EV Terlaris di Indonesia, Perkuat Momentum Awal Tahun 2026
- JAECOO J7 SHS-P dan Evolusi Elektrifikasi: Kendaraan Hybrid sebagai Opsi Strategis untuk Indonesia
- Awali 2026 dengan Tren Positif Pasar Nasional, BYD Perkuat Strategi Ekspansi Portofolio EV Sesuai Ke
- Arsitektur Kendaraan Listrik BYD dalam Menembus Batas Mobilitas Masa Depan: Integrasi Kecerdasan Tek
- Kehadiran Robot Humanoid AiMOGA di Booth JAECOO Bikin Pengunjung IIMS 2026 Penasaran
- JAECOO J5 EV Jadi “Kanvas” Modifikasi, Konsumen Diajak Berkreasi Rancang Mobil Listrik di IIMS 2
- JAECOO Kenalkan Program Co-Creation J5 EV di IIMS 2026, Ajak Konsumen Tentukan Mobil Ideal Versi Mer
- Satu Tahun di Indonesia, JAECOO Mantapkan Diri Sebagai Brand SUV Premium yang Tumbuh Cepat Lewat Tek
- Bebas Range Anxiety, JAECOO J5 EV Jadi Solusi Perjalanan Jauh
Merek Terkenal Bukan Jaminan Terbaik untuk Audio Mobil Kamu, Emang Iya?
Pilihlah audio mobil berdasarkan kualitas
Modifikasi audio mobil adalah cara yang populer untuk meningkatkan pengalaman berkendara. Namun, banyak pemilik mobil pemula seringkali terjebak dalam perangkap merek. Konsumen cenderung memilih produk dari merek-merek ternama tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain yang lebih penting.
Berdasarkan Kompas.com, seringkali konsumen terjebak dalam pesona merek-merek terkenal dari luar negeri seperti Sony, Jabra, Bang & Olufsen, dan yang paling sering ditemui, James Bullough Lansing (JBL).
Merek-merek ini terkenal dan unggul dalam sektor audio portabel, seperti speaker Bluetooth atau headphone, bukan di audio mobil.
Tedy Junaidi selaku Owner Workshop Audio Mobil Niki Motor di Tangerang, sering kali menemui pelanggan yang kurang paham dan meminta merek-merek tersebut.

“Karena taunya cuma merek-merek itu saja, jadi itu yang diminta. Kadang harus dijelasin dulu ke konsumen, kalau merek terkenal itu nggak melulu bagus,” ujar Tedy yang dilansir dari Kompas.
Tedy menjelaskan bahwa ia tidak menyediakan beberapa merek audio terkenal karena harga yang terlalu tinggi dan tidak sebanding dengan kualitasnya, serta pengaturan suara yang kurang optimal.
“Banyak merek audio yang mahal di nama doang. Jangan ketipu,” jelasnya.
Menariknya, Tedy menyebut adanya sejumlah produk aftermarket 'underground' yang mungkin kurang dikenal namun menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau dengan kualitas yang sangat baik.
Perbedaan harga yang signifikan, bahkan bisa mencapai dua kali lipatnya, tentu menjadi pertimbangan menarik bagi konsumen yang ingin mendapatkan performa terbaik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
.jpg)
“Kemahalan harganya. Tapi kalau konsumen memang udah maunya itu, ya akan tetap kami layani. Biasanya memang sudah punya, jadi ke bengkel hanya minta pasang saja,” ungkap Tedy.
Namun, jika diliihat dari sisi teknis, merek terkenal memiliki signature sound. Di mana, pengaturan suara khasnya sulit diubah, sehingga ini menjadi tantangan saat melakukan tuning audio mobil.
Misalnya, peranti audio JBL cenderung menekankan karakter bass, sehingga kejernihan dan kecerahan suara mungkin kurang terasa. Ini mungkin kurang ideal bagi mereka yang menyukai musik akustik atau instrumental.
Sebelum memulai modifikasi audio mobil, Tedy menyarankan untuk menentukan anggaran terlebih dahulu dan berkonsultasi dengan mekanik spesialis. Bengkel audio profesional umumnya menyediakan demo suara untuk membantu konsumen memilih modifikasi yang sesuai.










.jpg)




.jpg)
 BYD ATTO 3 Harbour Grey (2).jpg)
 (1).jpg)